Breaking News

Bupati Sujiwo: Benteng Perlindungan Rakyat

Bupati Sujiwo: Benteng Perlindungan Rakyat

KALBAR.SATUSUARA.CO.ID (PONTIANAK) - Pada paruh pertama tahun 2025, dunia pendidikan di Kalimantan Barat berada dalam suasana keprihatinan mendalam. Sebuah kasus memilukan mencuat ke ruang publik dan mengguncang nurani bersama, yakni peristiwa perundungan (bullying) terhadap seorang siswa di MTs Al-Raudhatul Islamiyah.

 

Kejadian tersebut dilaporkan terjadi pada 14 Juli 2025 dan dengan cepat menyebar luas melalui media sosial, khususnya WhatsApp.

 

Dalam cuplikan video yang viral, terlihat jelas seorang oknum guru menyampaikan bahwa seorang siswa harus turun kelas lantaran belum melunasi pembayaran Lembar Kerja Siswa (LKS).

 

Fakta yang kemudian terungkap menunjukkan bahwa siswa tersebut memiliki tunggakan sebesar Rp350.000,00 yang diwajibkan dibayarkan saat pengambilan rapor. Peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi telah melukai rasa keadilan dan kemanusiaan, terutama karena terjadi di lingkungan pendidikan—ruang yang semestinya aman, ramah, dan mendidik karakter generasi penerus bangsa.

 

Kasus ini mengguncang hati Bupati Kubu Raya, Sujiwo, S.E., M.Sos—akrab disapa Pak Jiwo. Di tengah gelombang kekecewaan dan kemarahan publik, Bupati Sujiwo tampil sebagai pemimpin yang sigap, berpihak, dan tidak bersembunyi di balik prosedur birokrasi yang kaku.

 

Sejak kasus tersebut mencuat, ia segera memerintahkan jajarannya, termasuk dinas pendidikan dan pihak terkait, untuk melakukan investigasi secara menyeluruh. Tidak berhenti di sana, ia juga menginstruksikan agar pendampingan psikologis diberikan kepada korban dan keluarganya.

 

Lebih jauh, Bupati Sujiwo menginisiasi pertemuan terbuka yang melibatkan tokoh masyarakat, pihak sekolah, serta perwakilan orang tua siswa. Ia bahkan turun langsung menyambangi kediaman siswa tersebut di Pal 9, Kecamatan Sungai Kakap, pada Rabu, 23 Juli 2025.

 

Tindakan ini menegaskan bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya hadir di ruang rapat, tetapi juga di tengah luka dan kegelisahan rakyat.

 

Dalam langkah yang mencerminkan empati dan keberanian moral, Bupati Sujiwo tidak hanya menanggung seluruh biaya pendidikan siswa korban perundungan, tetapi juga menyerahkan bantuan dana pribadi sebesar Rp15.900.000,00 kepada pihak madrasah.

 

Dana tersebut digunakan untuk melunasi tunggakan biaya pendidikan seluruh siswa MTs Al-Raudhatul Islamiyah yang tercatat berjumlah 106 orang. Sikap ini mengantarkan dirinya mendapat julukan dari masyarakat sebagai Bupati Pelindung Dan Pengayom Rakyat.”

 

Kasus ini seharusnya menjadi titik tolak pembenahan sistem pendidikan yang lebih manusiawi—memanusiakan manusia—serta berkeadilan sosial. Respons cepat dan tegas yang ditunjukkan Bupati Sujiwo merupakan wujud nyata benteng perlindungan bagi rakyat kecil.

 

Ia berdiri di barisan rakyat, bukan di balik meja kekuasaan. Ia hadir bukan semata sebagai pejabat administratif, melainkan sebagai pelindung hak-hak warga, khususnya anak-anak sebagai simbol masa depan daerah.

 

Kita patut menyadari bahwa perundungan di sekolah bukan sekadar persoalan perilaku individu, tetapi mencerminkan krisis nilai dan lemahnya sistem pengawasan. Langkah-langkah Bupati Sujiwo mencerminkan prinsip kepemimpinan progresif yang berpihak pada keadilan sosial.

 

Anak-anak bukanlah angka statistik dalam laporan pendidikan, melainkan jiwa-jiwa muda yang harus dilindungi dari kekerasan fisik maupun psikis, terlebih jika dilakukan oleh pihak yang seharusnya menjadi teladan.

 

Di saat banyak pemimpin memilih bersikap aman dan bungkam dalam menghadapi isu sensitif, Bupati Sujiwo justru tampil berani dan tegas. Dalam dirinya, kita melihat wajah kepemimpinan yang dibutuhkan rakyat hari ini: pemimpin yang tidak hanya menyerap aspirasi, tetapi juga menegakkan keadilan dengan hati nurani.

 

Kasus ini semoga menjadi pembelajaran kolektif bagi seluruh sektor publik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat—pendidikan, kesehatan, maupun layanan umum lainnya. Lebih dari itu, semoga keberanian dan kepekaan Bupati Sujiwo menjadi inspirasi bagi kepala daerah lain di Indonesia.

 

Menjadi pemimpin berarti menjadi benteng perlindungan rakyat, terutama bagi mereka yang lemah dan tak berdaya.

 

Bagi Sujiwo, kekuasaan bukanlah alat untuk menjaga jarak dengan rakyat, melainkan sarana untuk mendekap mereka yang paling membutuhkan perlindungan. Ketika anak-anak bangsa tidak lagi merasa aman di sekolah, dan suara rakyat kecil terpinggirkan dalam lorong kebijakan, maka pemimpin sejati adalah mereka yang turun tangan—bukan hanya sebagai pengambil keputusan, tetapi sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan. Model kepemimpinan inilah yang disebut excellence in leadership (White, 1986).

 

Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin seperti Bupati Sujiwo. Pemimpin yang tidak sekadar hadir dalam seremoni dan pidato, tetapi juga hadir dalam luka dan tangis warga. Pemimpin hebat bukan pencari panggung, melainkan sosok yang mampu:


(1) menciptakan ruang keadilan,

(2) mendobrak prosedur birokrasi yang tidak relevan, dan

(3) berdiri di barisan terdepan untuk membela rakyat—sebagaimana ditegaskan Ross (1988).

 

Semoga kisah ini menyadarkan kita bahwa keberanian, empati, dan ketegasan bukanlah kelemahan dalam politik, melainkan inti dari kepemimpinan sejati (Thomas, 2006; Kouzes & Posner, 2011).

 

Dan semoga pula, sosok pemimpin seperti Bupati Jiwo terus lahir dan menyebar dari tingkat kabupaten, kota, provinsi, hingga nasional. Pemimpin hebat adalah mereka yang berani berkata kepada publik:

 

“Saya hadir untuk rakyat. Saya adalah benteng perlindungan mereka.”


Penulis : Dr. Erdi, M.Si

Yustinus Rudiyanto, S.Pd., M.Pd., M.Sos

Dosen FISIP Universitas Tanjungpura


Referensi

Kouzes, J. M., & Posner, B. Z. (2011). Credibility: How Leaders Gain and Lose It; Why People Demand It. Jossey-Bass, A Wiley Imprint.

 


Type and hit Enter to search

Close